Di sruputan kopi yang pahit, ada manis yang tak sempat disebut. Asapnya naik, membawa segala kata yang tak jadi keluar dari dada — tentang cinta yang tak pandai mengekspresikan diri, tentang rindu yang harus tetap tegar.
Kursi besi depan Indomaret menjadi saksi, tempat aku menata diam, menggulung waktu, mendengarkan langkah-langkah orang lewat seperti mendengar masa mudaku berpamitan perlahan.
Aku ingin berkata: "Betapa berat menahan perasaan yang tak boleh tampak lemah," tapi dunia sudah menulis naskahnya sendiri — ayah harus kuat, harus tegak, harus tahu arah bahkan saat hatinya tak tahu pulang.

Lihatlah anak-anakku — dalam tawa mereka ada kehidupan, dalam mainan mereka ada harapan. Setiap roda mobil-mobilan yang berputar, setiap boneka yang bicara dalam imajinasi, menjadi alasan mengapa aku tetap bertahan, meski dunia tak pernah bertanya: "Apa kau baik-baik saja?"
Di malam hari, aku sering berbicara dengan Tuhan dalam hening: "Ya Allah, jangan biarkan aku kaku di hadapan cinta mereka. Ajarkan aku menjadi lembut tanpa kehilangan arah, kuat tanpa kehilangan hati."
Kadang aku memandangi istriku dari jauh, yang tak pernah tahu betapa sering aku merasa tak cukup. Cintanya adalah selimut yang menutupi segala retakku, hangat tapi diam, seperti malam yang tahu kapan harus mendengarkan.
Aku tidak ingin dikenang sebagai lelaki yang kuat, cukup sebagai lelaki yang mencintai, meski caranya sering tak terlihat.
Sebab di sruputan kopi yang sederhana itu, di kursi besi yang dingin itu, di tawa anak-anak yang singkat itu, ada seluruh kisah cintaku — yang tak pernah aku ucapkan, karena cinta seorang ayah selalu lebih dalam dari kata-kata.
SYB
Di Sruputan Kopi, Aku Menjadi Ayah